Gerakan Hari Sedekah Nasional


Filosofi Arsene Wenger

Berikut adalah cerita tentang filosofi AW yg saya kumpulkan dari twitnya @AIS_JKT
Semoga pengetahuan para gooners bertambah :D

Category: 0 komentar

Eart Day


Kalian pasti sudah mengetahui apa itu Eart Hour, jika masih ada yang belum tau silahkan baca-baca disini : http://earthhour.wwf.or.id/tentang.php
Aksi saya untuk kegiatan ini adalah menempelkan banner pada mading di daerah rumah saya, sebenernya saya juga ungin membuat stiker dan bajunya. Karena dana terbatas untuk stiker dan untuk bajunya susah dicari (tidak ada yang jual), saya tidak jadi melakukan aksi ini. Ya walaupun saya hanya memasang banner pada mading dan blog saya, yang penting saya ingin memperingati hari bumi ini. Inilah aksiku ! Mana aksimu ? :)

Kisah Rasulullah SAW Dan Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah terdapatlah seorang pengemis Yahudi yang buta. Hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berata, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya."
Setiap pagi Rasulullah SAW mendekatinya dengan membawa makanan dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibwanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang beliau wafat.

Setelah Rasulullah SAW wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi yang buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah putrinya 'Aisyah r.a. Beliau bertanya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan ?"
'Aisyah r.a. menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja."
"Apakah itu ?" Tanya Abu Bakar r.a.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a. mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?"
Abu Bakar r.a. menjawab, "Aku orang yang biasa datang."

"Bukan ! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," jawab si pengemis buta itu. "Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan dengan lembut kepadaku."
Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW."

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, Benarkah demikian ? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia."

Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Abu Bakar r.a. Kesabaran Rasulullah SAW memang tidak terbatas dan tidak pandang bulu walaupun kepada seorang pengemis buta Yahudi yang selalu memusuhi beliau.

Sumber : Dikutip dari buku yang berjudul "Muhammad SAW The Super Leader Super Manager"

Kekayaan Kita : Rizki atau Istidraj ?

Memiliki harta (yang banyak) tentu bukan perkara yang dilarang dalam agama. Ajaran agama tidak pernah concern pada jumlah kekayaan, tapi lebih pada proses mendapatkan kekayaan tersebut dan bagaimana kekayaan itu dipergunakan. Tidak ada ayat atau hadits yang menyatakan bahwa kekayaan yang boleh dimiliki seseorang maksimal Rp. 1 juta , misalnya. Yang ada pada ajaran kita adalah jika memiliki kekayaan sekitar sekian rupiah, maka zakatnya sekian persen. Tidak ada seruan dari Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk membatasi bentuk harta kekayaan yang boleh dimiliki (misalnya properti saja atau pertanian saja atau emas saja atau peternakan saja). Yang senantiasa diserukan adalah agar kita mencari harta kekayaan yang halal dengan jujur dan amanah.

Derasnya arus materialisme dan bergesernya nilai-nilai dalam kehidupan masyarakat, turut mempengaruhi cara pandang dalam menilai seseorang. Kemuliaan dan kehormatan kini cenderung dinilai atau diukur dari seberapa banyak harta yang dikuasai, entah diperoleh dengan cara-cara yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Berkawan dan bersosialisasi dengan kaum the haves dirasakan lebih berharga dan lebih penting dibanding dengan kaum miskin. Pola hidup jetset gentar digaungkan oleh media. Kehidupan borjuis terus-menerus dimasukkan ke dalam pikiran masyarakat. Khayalan-khayalan kemewahan hidup dijadikan opini umum (bukan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar ikhlas dan pekerja keras dan jujur). Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran [3] : 14 : " Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)."

Kadangkala, kemiskinanpun ditayangkan di televisi, tapi bukan untuk menghilangkan kemiskinan tapi dieksploitasi untuk meraih rating dan pemasukan dari iklan untuk si pemilik tayangan dengan sedikit memberikan "uang receh" kepada si miskin yang jadi aktor di tayangan tersebut. "Perjuangan" untuk mewujudkan pemikiran materialisme, khayalan-khayalan borjuis dan impian kemewahan hidup ke dalam kenyataan menjadi pemandangan sehari-hari. Sebagian sudah "berhasil", sebagian lainnya masih terus berjuang. Demi mengejar status sosial, banyak orang rela melakukan apa saja, dimana saja dan kapan saja. Nilai-nilai agama tidak lagi menjadi rambu dan petunjuk penting dalam "perjuangannya" itu. Halal-haram tidak lagi penting. Yang paling penting adalah seberapa cepat dan seberapa banyak kekayaan itu bisa dikuasai. Ini bisa dimaklumi karena motivasi perjuangannya bukanlah untuk mencari ridha Allah swt.

Muncullah di permukaan bumi ini orang-orang yang kaya raya. Hartanya berlimpah, kehidupannya mewah. Kekayaannya mengundang decak, gaya hidupnya membuat orang terhenyak. Tapi (sayangya) banyak orang kaya yang seperti itu justru jauh dari tuntutan agama. Mereka melupakan Allah dan Rasul-Nya. Mereka melakukan keburukan dan kefasikan. Mereka melumrahkan kecurangan dan kesewenang-wenangan. Tingkah laku mereka dijadikan trendsetter oleh media (misalnya melalui tayangan infotainment dan sinetron). Tidak ada lagi rasa malu melakukan berbagai pelanggaran terhadap nilai atau norma agama atau moral. Tidak ada keraguan untuk memamerkan dan mempertontonkan kegilaan materialistik dan kemaksiatan. Mereka mengajak masyarakat untuk "meneladani" mereka: pikirannya, ucapannya, tindakannya, pakaiannya, makanannya, minumannya, bahasanya, dan gaya hidupnya. Tak jarang pula mereka tampil religius, lengkap dengan ucapan yang fasih, "Ini semua rizki dan nikmat dari Allah swt". Uniknya, walaupun merek seperti itu, kekayaan mereka tidak berkurang sedikitpun. Bahkan semakin berlipat ganda. Popularitas mereka semakin tinggi. Polah tingkah mereka menjadi opini umum di masyarakat. Mereka melaju terus, lenggang kangkung, tanpa hambatan. Suara-suara protes kritis dan nasehat, dianggap angin sepoi-sepoi yang segera berlalu dan terlupakan. Semakin jauh dari aturan Allah swt, tawa mereka semakin membahana, senyum semakin lebar, semakin populer dan semakin kaya raya.

Bagaimana bisa orang-orang yang tidak mau dekat dengan Allah justru dikaruniai "rizki" yang berlimpah ruah dan memiliki pengaruh luas ? Bagaimana dengan janji Allah bahwa dunia ini diwariskan kepada kaum yang beriman ? Bagaimana bisa mereka tersenyum penuh kemenangan dan terus saja melaju dalam kemaksiatannya yang disiarkan setiap hari untuk disimak oleh berjuta-juta rakyat ? Bagaimana pula dengan orang-orang yang rajin shalat, rutin mengaji, rajin menolong orang, tak absen di forum-forum pengajian, tapi "rizki" mereka amat seret ?

Tidak ada yang perlu dirisaukan. Mari kita lihat firman Allah swt dalam surat Al-An'aam [6] : 44: "Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pinta kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka gembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."

Orang-orang yang jauh dari mengingat Allah swt, justru Allah "karuniakan" berbagai kesenangan duniawi. Semakin senang, semakin maksiat, semakin lupa akan iman dan amal saleh, justru semakin Allah tambahkan "karunia" tersebut berkali-kali lipat. Harta, kesenangan, popularitas, kekuasaan, kewenangan, kecerdasan, pengaruh politis serta kemewahan hidup mereka adalah palsu belaka. Allah memberikannya kepada mereka tetapi tidak disertai dengan keberkahan. Tidak ada rahmat-Nya disana. Tidak ada 'senyum'-Nya disana. Semua "karunia" itu tidak membuat mereka tentram dan ingat kepada Allah. "Karunia" tersebut tidak menjadikan mereka ahli ibadah yang dekat dengan-Nya. Allah swt berfirman dalam surat Al-Mukminun [23] : 55-56 : "Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka ? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar."

Sesungguhnya "karunia" mereka itu tidak pantas disebut rizki. Allah telah memberikan terminologi khusus untuk itu. Allah berfirman dalam surat Al-Qalam [68] : 44-45 : "Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur'an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh." Dan juga dalam surat Al-A'raf [7] : 182 : "Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui."

Itulah istidraj. Secara harfiah, istidraj bermakna berangsur-angsur, bertahap, atau berkelanjutan. Secara istilah, istidraj bermakna pemberian (nikmat) Allah swt (yang berlipat-lipat banyaknya) kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, yang dengan itu mereka semakin ingkar kepada Allah swt dan Rasul-Nya, sehingga semua karunia nikmat-Nya tersebut justru akan membawa mereka pada kebinasaan, baik binasa hati nurani, binasa akhlak, binasa ruhani, binasa harta (karena pertikaian perebutan harta), binasa popularitas (karena tersaingi atau terkena kasus-kasus hukum), dan binasa di hari akhir kelak. Allah swt berfirman : "Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak ! Sesungguhnya, dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu ? (yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan." (QS Al-Humazah [104] : 1-6.

Rasulullah saw menegaskan lagi dalam sabdanya : "Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba apa yang diingikannya, padalah hamba itu selalu berbuat maksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj dari Allah untuknya. (lalu Rasulullah saw membaca surat Al-An'aam ayat 44)." (HR. Ahmad dan Thabrani, dalam kitab As-Syu'ab). Jelaslah kini bagi kita mengapa koruptor bisa bebas melanglang sambil tersenyum serta terus berjaya. Teranglah kini bagi kita mengapa para politisi dan birokrat penipu bisa terus bertengger lama di jabatannya. Tidak ada lagi tanda tanya dan kerisauan di dada kita.

Bagaimana dengan "nasib" orang-orang yang beriman ? Allah swt telah memberikan 'surat cinta' untuknya (peringatan) : "Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid [57] : 20).

Namun, apakah ini berarti kaum beriman tidak boleh dan tidak bisa mendapatkan kenikmatan dan kejayaan di dunia dalam rangka menebar rahmat-Nya ? Allah swt berfirman : "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash [77]: 77). Inilah yang seharusnya jadi concern kaum beriman. Inilah tuntutan yang tepat. Inilah rizki dari Allah swt yang akan memberikan ketenangan karena di dalamnya ada keberkahan, ada rahmat, dan ada 'senyum' dari Allah swt. Inilah yang membedakannya dengan istidraj. Tidak perlu iri dengan kelebihan harta orang lain, tapi marilah kita syukuri dan kita kembangkan nikmat rizki dari Allah swt. Marilah kita bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja ikhlas agar bisa menjadi kaya dengan rizki-Nya, bukan istidraj.

Wallahu a'lam bisshawab

Sumber : Lembar Khutbah Jum'at Khairu Ummah

Teori Kehancuran Bangsa Menurut Al-Qur'an

Al-Qur'an banyak menuturkan kisah-kisah umat masa lalu. Di antara mereka ada yang sudah musnah ditelan masa tetapi juga banyak yang masih bisa dilacak peninggalan sejarahnya. Namun begitu, penuturan kisah-kisah tersebut bukan sekedar untuk mengungkap dimensi kesejarahannya; akan tetapi untuk dijadikan 'ibrah (peringatan atau pelajaran) bagi umat-umat setelahnya.

Paling tidak, ada empat bangsa yang dianggap cukup maju baik secara teknologi maupun kemapanan ekonomi. Misalnya, kaum 'Ad (kaum Nabi Hud as.) yang digambarkan oleh Al-Qur'an sebagai bangsa yang sudah maju yang belum pernah ada sebelumnya. Begitu juga kaum Tsamud (kaum Nabi Sholeh as.), mereka memiliki keahlian untuk memahat gunung-gunung cadas, baik untuk hiasan semacam relief-relief maupun untuk tempat tinggal dengan arsitektur yang cukup mengagumkan untuk ukuran saat itu. Bahkan, mungkin sampai saat ini. Kemudian bangsa Madyan (kaum Nabi Syu'aib as.), mereka hidup di kawasan yang subur dan memiliki dua keahlian yang sangat menonjol, yaitu berdagang dan bercocok tanam, yang memungkinkan mereka bisa maju secara ekonomi. Dan terakhir adalah bangsa Mesir, yang dipimpin oleh seorang Raja, yang dikenal dengan Fir'aun. Fir'aun memiliki pengaruh dan kekuasaan yang sangat besar dan kuat. Ia menguasai tanah Mesir dan hajat hidup rakyat Mesir.

Namun, keempat bangsa besar di atas pada akhirnya dihancurkan oleh Allah SWT. Dalam hal ini, Al-Qur'an menyebut mereka sebagai bangsa yang kafir, zalim, fasik, dan kizb (mendustakan kebesaran Allah SWT). Sepintas pernyataan Al-Qur'an tersebut mengarah kepada kesalahan teologis. Maksudnya, mereka dihancurkan karena secara teologis, akidah mereka berbeda dengan akidah para Rasul. Namun, menurut Imam al-Razi, seorang mufasir ensiklopedis, bahwa sebab-sebab kehancuran mereka bukan bersifat teologis, tetapi bersifat sosiologis. Misalnya kaum 'Ad disebabkan oleh keangkuhan intelektual yang sudah membudaya; kaum Tsamud disebabkan oleh budaya hedonistic; bangsa Madyan disebabkan oleh kecurangan dalam berbisnis (kejahtan ekonomi); sedangkan Fir'aun disebabkan oleh arogansi kekuasaan sehingga cenderung bersikap tiranik dan menindas. Atau dengan istilah lain, Allah akan mengabaikan kebenaran akidah jika tidak tercermin didalam realitas sosialnya.

Namu, ada hal penting yang perlu diungkap dibalik kehancuran bangsa itu? Memang benar, bahwa kehacuran bangsa itu disebabkan oleh kezaliman yang sudah membudaya. Namun, hal itu bukan berarti setiap penduduk melakukan kezaliman, tetapi pada mulanya dilakukan oleh sebagian saja. Hanya saja, yang sebagian itu menjadi kelompok dominan di masyarakat. Kelompok inilah yang berpotensi menciptakan budaya-budaya buruk ditengah-tengah masyarakat. Ini bisa dipahami dari firman Allah :
"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah (mutraf) di negeri itu (supaya mena'ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapya perkataan (ketentuan Kami), kemudian KAmi hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Isr 17:16).

Ayat di atas bukan sekedar memaparkan hancurnya sebuah bangsa tertantu yang ada pada masa lalu, tetapi ayat ini merupakan bisa dipahami sebagai teori umum tentang kehancuran bangsa. Dalam hal ini, Al-Qur'an secara khusus menyebutkan kata mutraf yang oleh para pakar dipahami sebagai orang yang cenderung berlaku seenaknya dan berfoya-foya disebabkan kemewahan dan kemegahan yang dimiliki. Mereka juga merupakan kelompok yang mudah melupakan nilai-nilai kemasyarakatan, melecehkan ajaran-ajaran agama; bahkan, menindas orang-orang yang lemah. Mereka terbiasa "menikmati" perilaku dosanya tanpa merasa bersalah.

Dari gambaran diatas bisa dipahami bahwa mutraf adalah orang-orang yang memiliki "sesuatu" yang berpotensi melahirkan penyimpangan-penyimpangan sosial tersebut. Dan, "sesuatu" yang dimaksud adalah harta dan kekuasaan. Sebab, kedua hal inilah yang paling dipercaya memiliki pengaruh kuat bagi kehidupan masyarakat. Jika demikian, maka kata mutraf dapat diidentifikasi sebagai kelompok yang menguasai ekonomi (elit ekonomi) dan pemegang kekuasaan (elit penguasa/politik). Hal ini cukup logis, sebab kedua kelompok tersebut pada kenyataannya paling berpotensi menciptakan budaya-budaya buruk bagi masyarakat, sekaligus berpotensi melakukan ketidakadilan, penindasan, dan penyelewengan.

Hubungan rasional antara kelompok mutraf dan eksistensi bangsa dijelaskan oleh Maheruddin Shiddiqi, sarjana Muslim dari Pakistan : "Ketika masyarakat terbiasa hidup mewah dan dikelilingi dengan kemewahan, mereka akan terbiasa memperoleh kemudahan dan kesenangan, yang selanjutnya cenderung mengendurkan kontrol spiritual dan disiplin sosialnya. Longgarnya kontrol ini akan mengakibatkan mereka mudah melakukan ketidakadilan dan tidak berperikemanusiaan terhadap hak-hak orang-orang lemah dan tidak berdaya".

Secara ilustratif, dijelaskan oleh Quraish Shihab, "Apabila penguasa suatu negeri hidup berfoya-foya, maka ini akan menjadikan mereka melupakan tugas-tugasnya serta mengabaikan hak-hak orang kebanyakan, membiarkan mereka hidup miskin. Inilah yang mengundang kecemburuan sosial, sehingga merenggangkan hubungan masyarakat dan mengakibatkan timbulnya perselisihan dan pertikaian yang melemahkan sendi-sendi bangunan masyarakat, yang pada gilirannya meruntuhkan sistem yang diterapkan oleh penguasa-penguasa tersebut. Ketika itulah akan runtuh dan hancur masyarakat atau negeri tersebut".

Atau secara logis, dijelakan oleh Imam al-Razi, "Ketika seseorang mendapat berbagai kenikmatan, melebihi yang lain, maka sudah sewajarnya jika ia lebih dituntut untuk bersyukur kepada Allah. Ketika perilaku mereka justru semakin buruk dari hari ke hari; sementara Allah SWT. masih terus memeberinya nikmat, maka wajar saja jika mereka layak dibinasakan. Namun begitu, bukan berarti Islam melarang manusia untuk menikmati kesenangan-kesenangan yang wajar. Yang ditentang oleh Islam adalah ketika kenikmatan itu menjadikan dirinya tidak mau lagi menjalani reksiko dan berkorban demi kemaslahatan dan kesejahteraan umat manusia.

Di samping mutraf, sebenarnya masih ada kelompok lain yang bisa diidentifikasikan memiliki peran yang cukup signifikan dalam kehancuran bangsa, yaitu mala'. Di dalam Al-Qur'an, kata mala' disebutkan sebanya 30 kali. Mala' adalah kelompok yang dpandang mulia oleh masyarakat. Mereka dipenuhi oleh kebanggaan dan kebesaran. Al-Qur'an menggambarkan mala' sebagai kelompok yang berada di sekeliling penguasa. Memang tidak semua mala' itu buruk, namun kecenderungan kelompok mala' dinyatakan oleh Al-Qur'an sebagai kelompok yang senantiasa "menjilat" sang penguasa. Bahkan, demi memuaskan nafsu serakahnya, mereka tidak segan-segan melakukan cara-cara kotor, provokatif, dan intimidatif. Mereka pun berupaya keras untuk menghalangi tegaknya kebenaran dan keadilan. Dan untuk mewujudkan tujuan tersebut, mereka tidak segan-segan melontarkan tuduhan yang nista dan tidak benar kepada para penegak kebenaran dan keadilan, kalau perlu dengan "menyihir" dan mempengaruhi lewat ide-ide "sesat" yang dibungkus dengan sangat rapi dan indah, juga memecah-belah serta membodohi pihak-pihak lain. (Qs. 7: 60, 66 dan Qs. 11:27).

Melalui mala' inilah para penguasa mencari dukungan untuk melanggengkan kekuasaannya. Di sisi lain, sang penguasa mencuci otak mala', dengan menanamkan doktrin bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan masyarakat. Sebagaimana yang tergambar dalam sosok Fir'aun (Qs. 23:38). Bahkan untuk lebih meyakinkan, Fir'aun berkata : "Aku tidak mengemukakan kepada kalian kecuali yang aku pandang baik". (Qs. Gofir/40:29).

Hubungan ketiga kelompok dominan di atas, elit politik, elit ekonomi, dan mala' dalam konteks kehancuran bangsa, secara logis dapat dijelaskan demikian :
"Apabila ketiga kelompok tersebut berkolusi serta melakukan konspirasi-konspirasi busuk maka tidak ada satu pun yang mampu menghentikannya, kecuali Allah. Ini artinya bangsa tersebut sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran". Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Al-Qur'an : "maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya ketentuan Kami, kemudian Kami hancurkan negeri tiu sehancur-hancurnya (Qs. 17:16). Bahwa kemudian siapa yang bisa mengukur kalau kezaliman itu sudah memenuhi syarat-syarat kehancuran sudah mencapai 100% atau belum tentu saja hanya Allah yang mengetahuinya. Namun yang pasti efek dari kehancuran tersebut akan sangat dahsyat dan meluas. Bukan saja menimpa mereka yang berperilaku zalim tetapi merebak ke seluruh sendi kehidupan masyarakat, termasuk menimpa anak-anak dan orang-orang yang tidak bersalah. Inilah sunnatullah (ketetapan Allah) di dunia yang tidak akan mengalami perubahan dan penyimpangan.

Jika KKN pernah menjadi sebab utama bagi terpuruknya negeri ini. Namun, sumber utama KKN ternyata bukan dari rakyat biasa atau orang miskin dan bodoh, tetapi justru mereka-mereka yang memegang kekuasaan, baik politik maupun ekonomi. Bahkan banyak diantaranya berpendidikan tinggi, namun bermental busuk. Sayangya, virus KKN yang telah memporakporandakan sendi-sendi kehidupan di negara ini, ternyata masih belum bisa diselesaikan dengan cukup elegan oleh bangsa ini.

Memang benar. Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri mengubah apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Namun, perubahan disini bukan dalam tataran pranata-pranata sosial, tetapi perubahan mental dan karakter. Gerakan penanaman sejuta pohon, tentu saja sesuatu yang berguna bagi kelangsungan bangsa ini, namun siapa yang menjamin kalau pohon yang sudah tinggi itu kelak tidak akan digunduli lagi dan ditebang secara ilegal serta penuh keserakahan, jika mentalnya masih mental masa lalu. Oleh karena itu, membangun sebuah bangsa yang habis terpuruk, bukan berarti mengubah "nasib" tetapi "membangun kembali" bangunan yang sudah porak poranda. Dalam hal ini, Al-Qur'an menekankan pada perubahan sikap mental dan karakter yang selanjutnya bisa mempengaruhi perilaku (Qs. 13:11).

Wa Allahu a'lamm


Sumber : Lembar Khutbah Jum'at Masjid Agung At-Tin

Membuat Pola Kaos dengan CorelDraw

Pertama-tama kita buka program CorelDraw dulu, disini saya memakai CorelDraw X4. Pakai CorelDrawa versi apa aja juga bisa kok. heheh

Langsung saja ikuti langkah-langkahnya…

1. Setelah program CorelDraw terbuka kita bisa memilih jenis kertas yang ingin kita pakai, lihat gambar di bawah ini :

2. Setelah itu search (cari) baju yang ingin didisain, anda bisa cari di google atau yang lainnya. Kalau sudah dapat gambar/disain bajunya, lalu kita import gambar baju tersebut dengan cara seperti gambar di bawah ini :


3. Anda juga bisa melakukannya dengan klik kanan pada mouse. Kemudian pilih import. Kemudian akan muncul icon baru, lalu anda drag(tekan mouse kiri) kemudian lepas. Maka akan muncul gambar bajunya. Lihat gambar di bawah ini :

4. Untuk menggambar ulangnya dengan disain kita sendiri, pilih pen tool pada menu. Lihat gambar di bawah :

5. Kemudian kita ikuti pola dari gambar dengan menggunakan pen tool. Jika jaraknya terlalu jauh kita bisa menggunakan scroll pada mouse untuk zoom in & zoom out. Nah, jadilah polanya seperti gambar di bawah ini :

6. Cara terakhir adalah menyesuaikan lekukan-lekukan pada gambar. Caranya anda pilih shape tool. Setelah itu anda klik pada pola yg sudah anda buat. Maka akan muncul titik-titik pada pola yg anda buat sebelumnya.

7. Lalu lakukan seperti yg ada pada gambar di bawah ini :

8. Untuk membuat pola yg lainnya, ikuti langkah sebelumnya.

9. Langkah terakhir adalah memasukkan warna yg anda inginkan, caranya seperti gambar berikut :

Sekian tutorial dari saya ...
Semoga bermanfaat ... :D

Category: 0 komentar